Tinggalkan komentar

Meregang Nyawa Di Ujung Risalah

kolom-amal-baik-996_mIbnu Ishaq berkata: “Sekumpulan orang dari Adhal dan Qarah datang kepada Rasulullah saw setelah perang Uhud, mereka berkata, ‘Rasulullah, sesungguhnya Islam telah sampai kepada kami, maka utuslah kepada kami beberapa orang sahabatmu untuk mengajari agama dan membaca al-Qur’an serta mengajari syariat Islam kepada kami.”’

Maka Rasulullah saw mengutus 6 orang sahabatnya, yaitu Martsad bin Abi Marstad, Khalid bin Bakir, ‘Ashim bin Tsabit, Khubaib bin ‘Adi, Zaid bin Datsnah dan Abdullah bin Thariq. Lalu mereka berangkat dan sampai di Raji’, yaitu tempat air kepunyaan suku Hudzail di pinggiran Hijaz. Mereka mengkhianad para sahabat dan mengepungnya, karena mereka ingin menjadikan 6 sahabat sebagai tawanan untuk dijual kepada orang kafir Quraisy. Maka terbunuhlah 4 orang sahabat ini, sedangkan 2 lagi di tawan yaitu Zaid bin Datsnah dan Khubaib bin Adi yang kemudian dijual kepada orang kafir Quraisy.

Ibnu Hisyam berkata: “Mereka menjual keduanya untuk ditukarkan dengan 2 tawanan Hudzail yang ditawan di Mekah.” Ibnu Ishaq berkata: “Khubaib dibeli oleh Hajir bin Ihab at- Tamimi yaitu sekutu bani Naufal Uqbah bin Harits, ayah Ihab adalah saudara seibu Harits bin “Amir. Hajir membunuh Khubaib karena ayahnya, sedangkan Zaid bin Dastnah dibeli oleh Sofwan bin Umayyah untuk membalas dendam kematian ayahnya Umayyah bin Khalaf.”

1. lihatlah kerelaan Ibnu Datsnah terhadap ketentuan Allah dan takdir-Nya, mereka menjatuhinya hukuman mati.

Ibnu Ishaq berkata: “Zaid bin Datsnah dibeli Sofwan bin Umayyah. Ia dikirim Sofyan kepada pembantunya yang bernama Nasthas di Tan’im yang berada di luar Mekah. Mereka mengeluarkannya dari tanah Haram untuk dibunuh, maka berkumpullah sekelompok orang kafir Quraisy, diantaranya; Abu Sufyan bin Harb, ketika ia hendak membunuhnya, Abu Sufyan berkata:

“Saya ingatkan kamu…. Zaid, Apakah kamu suka kalau Muhammad kami pancung kepalanya di tempatmu berada sekarang ini sedangkan kamu berada di tengah keluargamu.” Zaid menjawab: “Demi Allah, saya tidak suka Muhammad berada di tempat di mana sebatang duri akan mencelakainya sedangkan saya duduk di tengah keluargaku.”

Abu Sufyan berkata: “Saya tidak pernah melihat orang yang cinta kepada orang lain, seperti cintanya sahabat Muhammad kepadanya.” Lalu Zaid dipancung oleh Nasthas, yaitu pembantu Sofwan bin Umayyah.

2. Lihadah kerelaan Khubaib bin Adi terhadap keputusan Allah dan takdir-Nya, ketika ia ditangkap untuk dibunuh seperti sahabatnya.

Ibnu Ishaq berkata: “Sedangkan Khubaib bin Adi, Abdullah bin Najih mengatakan bahwasanya Mu’awiyah, pembantu Hajir bin Abi Ahab yang telah masuk Islam, pernah bercerita. Ia —pembantu itu— berkata: “Suatu hari, saya pernah melihat Khubaib ditahan di rumahku, ia memakan setangkai anggur yang ada di tangannya, sedangkan saya belum pernah melihat anggur seperti itu.” Ibnu Ishak berkata, “‘Ashim bin Ummar bin Qatadah dan Abdullah bin Abi Najih bercerita kepadaku;

sesungguhnya pembantu itu berkata: “Khubaib berkata ketika hendak dibunuh, ‘Berilah saya pisau cukur, karena saya ingin mencukur ketiak/ lalu pembantu itu membelikannya melalui seorang budak. Pembantu tersebut berkata kepada budak: “Bawalah pisau cukur ini ke dalam rumah dan serahkan kepada laki-laki itu!,” dan ia berkata

lagi,

“Demi Allah, ia adalah wali budak itu.” Saya berkata: “Apa yang kamu lakukan?, laki-laki itu telah membalas dendamnya dengan membunuh budak ini’, ketika ia membelikan Khubaib pisau cukur, ia berkata: “Demi kamu, ibumu tidak takut kalau saya membunuhmu, ketika ia mengirim pisau cukur irá.” Kemudian Khubaib membe­baskan budak tadi, Ibnu Hisyám berkata: “Sesungguhnya budak ini adalah anak pembantu itu.”

Lalu mereka keluar membawa Khubaib bin Adi ke Tan’im untuk disalib. Khubaib berkata kepada mereka: “Biarkanlah saya salat 2 rakaat.” Mereka berkata: “Lakukan!”

Maka Khubaib salat 2 rakaat dengan sebaik-baiknya lalu berkata: “Demi Allah, jika kalian sangka saya memanjangkan salat karena takut dibunuh, pastilah saya akan memperbanyak rakaatnya.”

Ia berkata: “Khubaib bin Adi adalah orang yang pertama kali salat 2 rakaat sebelum dibunuh.” Kemudian mereka mengangkat Khubaib ke kayu salib, ketika mereka telah mengikatnya, Khubaib berdoa: “Ya Allah, saya telah sampaikan risalah rasul-Mu, maka sampaikanlah esok apa yang telah diperbuat terhadapku.” Dan ia berdoa lagi: “Ya Allah, perhitungkanlah dan bunuhlah mereka, dan janganlah Engkau biarkan mereka hidup seorang pun.” Kemudian mereka membunuhnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: