Tinggalkan komentar

Kesempurnaan Tidak Mengajarkan Apa Pun

Di salah satu hari Minggu yang sepi di rumah, saya pernah teringat masa-masa kecil di desa yang sepi, kumuh dan jauh sekali dari kebanyakan ukuran kesempurnaan. Baju yang penuh debu, mainan semuanya terbuat dari bahan-bahan alam yang hanya dicuci oleh alam, kaki yang tidak memakai alas kaki, makan pakai tangan yang hanya dibersihkan baju.

Dalam banyak kesempatan mandi di kali, atau di sumber air pegunungan, sering berteriak ke orang-orang yang datang untuk tidak mendekat, sebab kami semua lagi telan­jang bulat. Ketika seorang teman yang uang sakunya sangat pas-pasan mencari uang dengan berjualan es keliling, saya pun menemaninya penuh kegembiraan.

Di tengah-tengah kehidupan yang serba tidak sempurna seperti itu, teramat sering saya berdoa untuk diberi kesem­purnaan hidup. Entah hidup di kota, naik pesawat terbang, makan dengan piring dan sendok garpu, pergi ke mana pun tanpa perlu menggerakkan kaki, dan yang paling penting ingin terkenal dan dikagumi orang karena kesempurnaan dan kekayaan yang saya miliki.

Untung saja Tuhan tidak mengabulkan doa untuk me­minta kesempurnaan ini. Andaikan saja kesempurnaan itu diberikan dulu, betapa hambarnya hidup ini. Hampir tidak

ada hal-hal yang menarik dan menantang yang bisa dijadi­kan pelajaran. Tidak mungkin saya bisa menjadi penutur kehidupan sebagaimana sekarang ini.

Ketidaksempurnaan memang tidak mengundang decak kagum, tidak juga membuat orang bertepuk tangan meriah untuk kita, apa lagi membuat kita memiliki pengikut dalam jumlah jutaan. Dengan segala kekurangannya, ketidaksem­purnaan mengajarkan banyak sekali hal. Lebih banyak dari yang bisa diajarkan sekolah mana pun. Saya pernah ber­sekolah di sekolah prestisius seperti INSEAD Prancis dan Universitas Lancaster Inggris.

Dengan tetap hormat pada sekolah, ia tidak sedalam dan sehebat ketidaksempurnaan dalam memberikan pelajaran ke­pada saya. Hidung saya yang tidak mancung dan besar serta mengundang ledekan banyak orang, mengajarkan kepada saya tentang perlunya menikah dengan diri sendiri. Sebab, hidung ini juga yang membuat saya dulu banyak berkelahi dengan diri sendiri. Lahir sebagai bungsu tiga belas ber­saudara memang membuat saya kurang mendapat perhatian orang tua dan saudara, setidak-tidaknya dibandingkan de­ngan sahabat yang jadi anak tunggal misalnya. Tetapi cara lahir seperti ini juga yang membuat saya menyayangi anak- anak saya melebihi banyak orang tua menyayangi anaknya.

Tinggal kost di rumah saudara yang anak-anaknya sangat nakal dan suka menyakiti hati memang sangat menyakitkan, tetapi ini juga yang membuat; saya keras mendidik anak- anak agar mereka menghormati orang lain di rumah. Meni­kah di umur dua puluh satu tahun memang menghadirkan kehidupan perkawinan yang mendekati neraka, tapi ini juga yang membukakan jendela cinta saya yang sangat dalam kepada isteri di rumah.

Memiliki seorang puteri ketika umur saya masih sangat muda memang menghasilkan banyak ketidaksempurnaan

yang patut disesali, tapi ketidaksempurnaan ini menimbul­kan rasa ’dendam’ untuk bercita-cita menjadi the best fatber in the world. Sebagai sarjana tanpa pengalaman yang datang ke Jakarta belasan tahun lalu, mengirim ratusan lamaran dan ditolak, hampir jadi supir bus kota, memang membuat hidup tidak enak. Namun, ia mengajarkan kepada saya akan pen­tingnya mencintai pekerjaan.

Menaiki bus kota selama bertahun-tahun di Jakarta yang penuh sesak, memang bisa menimbulkan banyak risiko dan tidak enak. Bahkan, pernah hampir dijepit bus kota karena berebut naik bus ke arah Depok. Demikian juga pengalam­an pindah dari satu rumah kontrakan ke rumah kontrakan yang lain. Adi, putera saya yang kedua, pernah nangis sam­bil mengadu pulang ke rumah, sebab seorang temannya menyebut rumah kontrakan kami sebagai rumah kodok, karena berwarna hijau dan kotor. Namun, semua ini berhasil mengajarkan kepada saya dan keluarga tentang pentingnya hidup penuh dengan rasa syukur.

Memulai kerja di perusahaan Jepang sebagai manage- ment trainee, tidak saja diharuskan mengenakan pakaian hijau muda ala daun pisang yang memalukan. Tetapi juga siap kerja serabutan, pindah dari satu tempat ke tempat lain setiap dua minggu, disuruh-suruh orang lama secara tidak sopan, dan yang paling menyakitkan tidak memiliki meja dan kursi kerja secara permanen lebih dari setahun. Sejumlah rekan memang lari pindah kerja karena tidak tahan, dan saya tinggal karena tidak bisa mencari pekerjaan di tempat lain. Pengalaman ini memang sangat pahit, namun ia telah membuat saya bisa sangat berempati dengan orang- orang bawah yang tidak berdaya.

Dipimpin orang diktator dan sangat sombong memang ditakuti banyak orang. Saya pernah mengalaminya. Bahkan pernah terkena insomnia (tidak bisa tidur) beberapa bulan

olehnya. Isteri saya bahkan mengkhawatirkan saya bisa impoten akibat stres berulang-ulang di tempat kerja. Akan tetapi, pengalaman ini juga yang memberikan banyak sekali kearifan-kearifan kepemimpinan.

Semua pengalaman di atas memang sudah berlalu. Mung­kin Tuhan akan menguji saya dengan pengalaman lain di masa depan. Yang jelas, saya bersyukur sekali kepada Tuhan karena tidak mengabulkan doa saya ketika masih kecil untuk meminta kesempurnaan.

Dan yang paling penting, bisakah saya bertutur seperti sekarang ini, seandainya Tuhan membuat saya jadi manusia sempurna sejak kecil?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: